RSS

Tips Menikmati Promo dan Menghemat Uang


Berikut ini, saya akan berbagi tips enjoying life versi saya agar tetap ramah di kantong.

1. Mengejar promo, why not?
 Followlah akun twitter seperti @AdaDiskon @DiskonBuzz @katalogpromosi, untuk mengetahui berbagai macam promo dan diskon terkini yang menarik setiap harinya. Akun-akun tersebut selalu menyajikan berbagai pemberitahuan tentang diskon, promo, katalog belanja, event, dan sebagainya yang sedang berlaku. Keuntungannya bisa anda nikmati untuk makanan, minuman, pakaian, aksesoris, sepatu, karaoke, hotel, tiket pesawat, dan sebagainya yang berkualitas tinggi dengan penawaran harga yang lebih murah dari biasanya. Pilah-pilihlah promo yang bisa anda nikmati dengan S&K yang tidak merugikan. Cari tahu update lain pada website produk yang sedang promo tersebut. Kalau perlu tanyakan pada customer service langsung.
Tapi ingat, jangan terlalu tergiur selalu mengejar promo. Karena lama-kelamaan uang di dompet anda pun semakin menipis karena selalu dipakai, meskipun terasa selalu lebih sedikit mengeluarkan uang sebelumnya. Prioritaskan dan nikmati diskon yang lebih bermanfaat bagi anda, contohnya untuk makanan minuman atau daily needs di supermarket.

2. Memakai barang secondhand tapi tetap stylish, why not?
Memang tidak selalu baru, rapi, dan bersih seperti yang dijual di mall-mall. Masyarakat biasanya menyebut dengan "barang kapal", pakaian dan barang bekas yang dijual sangat murah dan import dari luar negri. Contohnya di Banjarmasin bisa anda temukan di Pasar Subuh, pasar ini buka tiap pagi minggu di belakang texas kantor pos. Pakaian bekas banyak dijual secara lapak maupun dipajang dengan digantung pakai hanger. Banyak pakaian secondhand ini diantaranya yang bermerk sangat terkenal, bahkan tidak dijual di Indonesia. Pakaian tersebut kebanyakan merupakan barang bekas orang, tapi ada juga beberapa yang hasil cuci gudang. Apabila pakaian bekas, saat memilihnya harus teliti, mengamati bekas noda, kelengkapan kancing, keberadaan sobekan, kelayakan zipper, dan ukuran pakaian. Apabila barang cuci gudang biasanya masih bagus dan belum cacat, tapi tetap harus diteliti sebelum membeli.
Pakaian secondhand biasanya berkisar harga antara tiga sepuluh ribu sampai dengan puluhan ribu rupiah. Tergantung jenis barang atau pakaian apa yang anda pilih. Yang saya temukan di Pasar Subuh kebanyakan adalah kemeja, kaos wanita, dress, cardigans, celana kerja, celana jeans, jaket, mantel, topi, rok, celemek, taplak/kain meteran, tas, sabuk, dan sebagainya. Rata-rata pakaian yang sudah pernah saya beli selama ini sekitar Rp 10.000-20.000 saja. Tergantung dari kejelian memilih model pakaian, merk, kelayakan, kebersihan, dan menawar harga saja. Merk seperti uniqlo, skoolooks, converse, nike, adidas, dsb mungkin saja anda temukan.
Berburu pakaian secondhand merupakan suatu kegiatan yang menyenangkan tersendiri bagi saya. Selain hemat uang karena murah meriah, menjadi tantangan tersendiri bersaing diantara jejalnya orang di pasar untuk menemukan barang bagus, saya jadi sering menemukan model baju yang jarang ada, unik, tidak disamai oleh orang lain, bermerk berkualitas,  bisa tampil stylish dan keren ketika dipakai. Tidak ada gengsi untuk memakai barang secondhand, karena apabila sudah dibeli dari pasar, dibersihkan dengan detail, diperbaiki apabila perlu, hingga terlihat baru seperti barang mall saja. Untuk model pakaian pun tidak ketinggalan zaman, pintarlah memilih model yang tidak norak, dan sesuai perkembangan mode terkini.

Galeri Cover Lagu Soundcloud


Di bawah ini beberapa link hasil K-Pop cover song dari saya. Meskipun saya tau suara saya pas-pasan dan banyak fals-nya, tapi cover lagu ini sekedar meluangkan hobi menyanyi di saat sedang free. Hehehe



 



Video Porifera (Sponges)


Berikut ini video buatan saya tentang filum Porifera, silahkan ditonton yaa :D

Pengalaman Praktikum Kerja Lapangan Pertama

Tidak ada gunanya marah-marah dengan orang lain, karena tidak akan merubah keadaan yang ada. Seharusnya yang dilakukan adalah mensyukuri semua nikmat yang tersembunyi di balik kegiatan PKL ini.

Lelah itu tak apa demi kuliah, ada timbal baliknya dapat ilmu pengetahuan baru dimana-mana. Praktikum Kerja Lapangan (PKL) membuat saya banyak mendapatkan pelajaran baru, baik itu pelajaran ilmu pengetahuan, pelajaran hidup, dan lainnya. Sebuah pengalaman berharga untuk turun ke lapangan berbaur dengan banyak orang baru untuk bekerja sama. Semuanya rajin, semuanya membantu, semuanya bisa bekerja sama dengan baik. Walaupun terkadang ada yang acuh sekali, tidak berinisiatif untuk membantu temannya yang kesulitan dan bisanya bersantai cantik saja. Sebenarnya saya juga kadang kelepasan mengontrol emosi melihat keadaan begitu.

Alhamdulillah saya punya kelompok yang anggotanya cukup stabil. Semua bisa diajak bekerja sama dengan baik dan selalu saling membantu. Di kelompok ada 10 orang yaitu (6B) saya, Bimo, Kimmy, Shinta, Farida, (6A) Aufa, Rabi, Lisa, Firman, dan Ciya. Namun Ciya ini pindah keluar dari prodi, sehingga tidak ikut berjuang hingga akhir mengemban tanggung jawabnya sebagai anggota kelompok.
Jujur saya sangat senang dengan kelompok ini, solid dan rame sehingga suasana saat bekerja selalu terasa menyenangkan. Kalo melihat keadaan kelompok lain dan orang lain yang nampak kacau dan perselisihan, banyak hal yang membuat saya menjadi sangat bersyukur mempunyai pengalaman dengan kelompok ini. Perjuangan kami tidak sia-sia, karena bekerja dengan ikhlas hati dan senang akhirnya nilai PKL kami untuk laporan adalah 84! Sudah hampir nilai sempurna yaitu 85.

Pengalaman ini patut disyukuri, terima kasih kepada Allah SWT yang telah memberikan kesempatan saya bisa merasakan pengalaman berharga ini dalam kehidupan saya. Terima kasih kepada kedua orang tua dan acil saya yang telah memberi dukungan baik berupa materi maupun moral, walaupun terkadang mereka juga khawatir melihat saya bekerja non-stop ketika mengerjakan tugas PKL. Terima kasih kepada semua bapak dosen Zoologi Invertebrata yaitu pak Bunda, pak Mahruddin, dan Pak Molen yang telah banyak memberi ilmu berharga yang belum pernah saya ketahui sebelumnya. Terima kasih kepada kakak-kakak asdos semua, terutama kak Syamduddin yang membimbing kelompok 6 dengan baik. Terima kasih kepada teman-teman kelompok 6 yang membuat PKL ini dapat dilalui dengan baik. Terima kasih kepada teman-teman satu angkatan yang sudah membantu dalam mempermudah pekerjaan saya. Terima kasih kepada semua pihak yang berperan dalam membantu saya pada PKL pertama ini. Saya sangat bersyukur, alhamdulillah.

 (Bapak Bunda, kakak Syamsuddin dan kelompok 6)

Tempat: Pantai Takisung, Kalimantan Selatan.
Waktu Kegiatan: 9-11 Mei 2014
Acara: Praktikum Kerja Lapangan mata kuliah Zoologi Invertebrata
Peserta: Mahasiswa/i Pendidikan Biologi FKIP Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin angkatan 2013

Anatomi Insecta (Serangga)

1. Anatomi Umum
Untuk mengetahui bagaimana serangga hidup dan bagaimana mereka dapat dibedakan antara serangga yang satu dengan yang lainnya dan dengan hewan lainnya dan untuk identifikasi.


Anatomi belalang (Orthoptera) karena anatomi belalang merupakan anatomi dasar.
Rangka serangga berupa rangka luar (Eksoskeleton)

2. Dinding Tubuh
Dinding tubuh serangga tidak hanya berfungsi untuk melindungi bagian luar tubuh tetapi juga merupakan struktur untuk memperkokoh tubuh dan juga sebagai tempat melekatnya otot.
Integumen terdiri dari tiga lapisan utama, yaitu : 
  1. Lapisan dasar (basement membrane) dengan ketebalan kurang lebih ½ mm. 
  2. Epidermis atau hipodermis yang mempunyai ketebalan satu sel. 
  3. Lapisan kutikula yang tebalnya kurang lebih 1 mm.
Kutikula terdiri dari sel-sel mati yang dibentuk oleh sel hidup di bawahnya yaitu epikutikula, dan terdiri dari prokutikula dan epikutikula. Prokutikula terdiri dari lapisan yang lebih tebal dibandingkan epikutikula.
  • Prokutikula terdiri dari lapisan endokutikula dan eksokutikula.
  • Epikutikula merupakan lapisan tipis yang biasanya terdiri dari :
  1. Lapisan dalam disebut lapisan kutikulin (lipoprotein).
  2. Lapisan luar disebut lapisan lilin yang sulit ditembus air.
Bagian yang mengeras dari kutikula terutama terdapat pada lapisan eksokutikula, disebabkan oleh adanya sklerotin sebagai hasil dari proses pengerasan yang disebut dengan sklerotisasi. Kutikula relatif permiabel, dan bila keadaannya tipis, maka dapat dilalui oleh air dan gas.
Pada kutikula sering dijumpai :

  1. Sulkus, yaitu lekukan pada kutikula bagian luar.
  2. Sutura, yaitu garis persatuan antara dua sklerit yang terpisah.
  3. Apodema atau apofisis, yaitu penonjolan bagian dalam kutikula

 
3. Kepala
Kepala merupakan daerah tubuh depan yang menyerupai kapsul, mempunyai mata, antena, dan alat-alat mulut.
Kepala merupakan bagian depan dari tubuh serangga dan berfungsi untuk pengumpulan makanan dan manipulasi, penerima rangsang dan otak (perpaduan syaraf). Struktur kerangka kepala yang mengalami sklerotisasi disebut sklerit. Sklerit-sklerit ini dipisahkan satu sama lain oleh sutura yang tampak sebagai alur. Kutikula pada kepala mengalami penonjolan ke arah dalam, membentuk rangka kepala bagian dalam, yang disebut tentorium.
Terdapat tiga tipe kepala berdasarkan posisi alat mulut, yaitu :

  1. Prognatous (menghadap ke depan), contoh : Sithopillus oryzae (Coleoptera, Curculionidae)
  2. Hypognatous (menghadap ke bawah), contoh : Valanga nigricornis (Orthoptera, Acrididae)
  3. Ophistognatous (menghadap ke bawah dan belakang), contoh : Leptocorisa acuta (Hemiptera, Alydidae)

Pada kepala terdapat dua organ penerima rangsang yang tampak jelas yaitu mata tunggal dan antena.
Mata terdiri dari dua jenis : mata majemuk dan tunggal.


4. Tipe-tipe Antena
  • Antena adalah pasangan embelan-embelan yang terletak pada kepala, biasanya terletak di antara atau di bawah matamajemuk.
  • Antena biasanya beruas-ruas dan terdiri dari bagian-bagian, ruas pertama merupakan ruas dasar (skape), ruas kedua adalah tangkai pedikel (ped), dan sisanya flagelum.
  • Berdasarkan bentuknya antena serangga dibedakan menjadi: 
  1. Setaceus: berbentuk seperti duri, ruas-ruasnya lebih mengecil pada bagian ujung. seperti rambut kaku (Seta), makin ke ujung ruas-ruas antena maakin ramping, misalnya Isoptera.
  2. Filiform: berbentuk seperti benang, setiap ruas memiliki ukuran yang hampir sama dan biasanya berbentuk silindris, menyerupai tambang, tiap-tiap segmen yang membentuk antena ukurannya sama, misalnya antena pada Valanga sp. (Orthoptera)
  3. Moniliform: berbentuk seperti untaian tasbih, ukuran ruas-ruasnya sama dan relatif berbentuk bulat, seperti manik-manik, ruas-ruas antena berukuran sama dan berbentuk bulat, misalnya Rhysodidae.
  4. Serrata: berbentuk seperti gergaji, ruas-ruas terutama yang terdapat pada setengah atau dua pertiga dari ujung antena berbentuk segitiga, tiap-tiap segmennya berbentuk seperti gigi, misalnya Elateridae.
  5. Pektinate: berbentuk seperti sisir, sebagian besar ruas-ruas memiliki juluran lateral langsing dan panjang, setiap segmen memanjang ke arah samping seperti sisir, misalnya Pyrochoroidae.
  6. Bentuk Gada: ruas-ruas di sebelah ujung antena meningkat garis tengahnya dan peningkatannya terjadi secara betahap, misalnya pada Tenebrionidae dan kumbang Lady.
  7. Clavate : seperti moniliform tapi agak membesar kebagian ujungnya, misalnya Coccinellidae.
  8. Kapitate: ruas-ruas di sebelah ujung antena meningkat garis tengahnya dan peningkatannya terjadi secara tiba-tiba, seperti clavate tetapi perbesaran ruas-ruas terakhir tiba-tiba membesar, misalnya Nitidulidae.
  9. Lamellate: bila ruas-ruas ujung meluas ke samping membentuk gelabir-gelambir seperti piring yang bulat atau oval, segmen paling ujung membesar dan menjadi lempengan, misalnya Scarabaidae.
  10. Flabelate: bila ruas-ruas ujung seperti lembaran yang sisinya sejajar dan panjang atau gelambir-gelambir berbentuk lidah meluas ke samping, semua segmen setelah pedicel bentuknya seperti lempengan, misalnya Rhipiceridae.
  11. Genikulat: berbentuk siku, dengan ruas pertama panjang dan ruas-ruas berikutnya kecil dan membengkok pada satu sudut dengan yang pertama, contoh pada kumbang Chalcididae. Segmen pertama berukuran panjang diikuti oleh satu segmen yang lebih kecil yang membentuk sudut dengan segmen pertama, misalnya Formicidae.
  12. Plumosa: berbentuk seperti bulu, kebanyakan ruas-ruasnya memiliki rambut-rambut panjang, setiap segmen berambut lebat dan panjang, misalnya nyamuk jantan.
  13. Aristate: ruas terakhir biasanya membesar dan mengandung bulu-bulu dorsal yang banyak, yaitu arista, seakan-akan dari segmen antena keluar lagi antena, misalnya Muscidae. Misalnya pada lalat rumah.
  14. Stilate: ruas terakhirmemiliki juluran yang berbentuk seperti stili atau jari yang memanjang, segmen terakhir runcing dan agak panjang, misalnya Asilidae.
  15. Bipectinate: setiap segmen memiliki satu pasang rambut.


 5. Bagian-Bagian Mulut 
Secara umum alat-alat mulut serangga terdiri dari :
  1. Labrum (bibir atas)
  2. Sepasang mandibel (geraham pertama)
  3. Sepasang maksila (geraham kedua)
  4. Labium (bibir bawah)
  5. Epifaring (lidah) 


 Bagian-bagian mulut serangga dapat diklasifikasikan menjadi dua tipe umum, mandibulata (pengunyah) dan haustelata (penghisap). Tipe alat mulut pengunyah, mandibel bergerak secara transversal yaitu dari sisi ke sisi, dan serangga tersebut biasanya mampu menggigit dan mengunyah makanannya.  Tipe mulut penghisap memiliki bagian-bagian dengan bentuk seperti probosis yang memanjang atau paruh dan melalui alat itu makanan cair dihisap. Mandibel pada bagian mulut penghisap mungkin memanjang dan berbentuk stilet atau tidak ada.
Beberapa tipe alat mulut serangga yaitu :
a. Tipe alat mulut menggigit mengunyah terdiri dari :
(1). Labrum, berfungsi untuk memasukkan makanan ke dalam rongga mulut.
(2). Epifaring, berfungsi sebagai pengecap.
(3). Mandibel, berfungsi untuk mengunyah, memotong, atau melunakkan makanan.
(4). Maksila, merupakan alat bantu untuk mengambil makanan. Maxila memiliki empat cabang, yaitu kardo, palpus, laksinia, dan galea.
(5). Hipofaring, serupa dengan lidah dan tumbuh dari dasar rongga mulut.
(6). Labium, sebagai bibir bawah bersama bibir atas berfungsi untuk menutup atau membuka mulut. Labium terbagi menjadi tiga bagian, yaitu mentum, submentum, dan ligula. Ligula terdiri dari sepasang glosa dan sepasang paraglosa.
Contoh serangga dengan tipe alat mulut menggigit mengunyah yaitu ordo Coleoptera, Orthoptera, Isoptera, dan Lepidoptera.
b. Tipe alat mulut mengunyah dan menghisap
Tipe alat mulut ini diwakili oleh tipe alat mulut lebah madu Apis cerana (Hymenoptera, Apidae) merupakan tipe kombinasi yang struktur labrum dan mandibelnya serupa dengan tipe alat mulut menggigit mengunyah, tapi maksila dan labiumnya memanjang dan menyatu.
Glosa merupakan bagian dari labium yang berbentuk memanjang sedangkan ujungnya menyerupai lidah yang berbulu disebut flabelum yang dapat bergerak menyusup dan menarik untuk mencapai cairan nektar yang ada di dalam bunga.
c. Tipe alat mulut menjilat mengisap
Tipe alat mulut ini misalnya pada alat mulut lalat (Diptera). Pada bagian bawah kepala terdapat labium yang bentuknya berubah menjadi tabung yang bercelah.
Ruas pangkal tabung disebut rostrum dan ruas bawahnya disebut haustelum.
Ujung dari labium ini berbentuk khusus yang berfungsi sebagai pengisap, disebut labellum
d. Tipe Alat Mulut Mengisap
Tipe alat mulut ini biasanya terdapat pada ngengat dan kupu-kupu dewasa (Lepidoptera) dan merupakan tipe yang khusus, yaitu labrum yang sangat kecil, dan maksila palpusnya berkembang tidak sempurna.
Labium mempunyai palpus labial yang berambut lebat dan memiliki tiga segmen.
Bagian alat mulut ini yang dianggap penting dalam tipe alat mulut ini adalah probosis yang dibentuk oleh maksila dan galea menjadi suatu tabung yang sangat memanjang dan menggulung
e.  Tipe Alat Mulut Menusuk Mengisap
Kepik, mempunyai alat mulut menusuk mengisap, misalnya Scotinophara (Heteroptera).
Alat mulut yang paling menonjol adalah labium, yang berfungsi menjadi selongsong stilet
Ada empat stilet yang sangat runcing yang berfungsi sebagai alat penusuk dan mengisap cairan tanaman. Keempat stilet berasal dari sepasang maksila dan mandibel ini merupakan suatu perubahan bentuk dari alat mulut serangga pengunyah.


6. Toraks

  • Dada (toraks) terdiri atas tiga ruas dari depan ke belakang yaitu protoraks, mesotoraks dan metatoraks.
  • Masing-masing ruas toraks tersusun dari empat sklerit.
  • Sklerit pada bagian dorsal disebut notum, sklerit pada bagian lateral disebut pleuron, dan sklerit pada bagian ventral disebut sternum.

 7. Tipe Kaki Serangga 
  • Tungkai serangga terdapat pada prototaks, mesatoraks dan metatoraks yang masing-masing disebut tungkai depan, tungkai tengah dan tungkai belakang.
  • Tungkai serangga terdiri dari enam ruas yang terdiri dari :
  1. Koksa, yang merupakan bagian yang melekat langsung pada thoraks.
  2. Trokanter, bagian kedua dari ruas tungkai berukuran lebih pendek dari pada koksa dan sebagian bersatu dengan ruas ketiga.
  3. Femur, merupakan ruas yang terbesar.
  4. Tibia, ukurannya lebih ramping tetapi hampir sama panjang dengan femur pada bagian ujung tibia biasanya terdapat duri-duri atau taji.
  5. Tarsus, terdiri dari 1-5 ruas.
  6. Pretarsus, ruas terakhir dari tungkai, terdiri dari sepasang kuku tarsus dan diantaranya terdapat struktur lebus antara dua cakar disebut arolium, bantalan yang terdapat pada dasar cakar disebut pulvilli.
  • Bentuk atau tipe kaki serangga bermacam-macam tergantung jenis dan kegunaannya.
  • Berdasarkan bentuknya kaki serangga dibedakan menjadi:
    1. Natatorial, terdapat pada serangga perenang. Pada tipe ini pasangan kaki tengah dan belakang bentuknya pipih dan pada bagian tepinya terdapat rambut-rambut kasar. Contoh : Hydrophilus triangularis (kumbang air)
    2. Raptorial, sepasang kaki depan berfungsi sebagai lengan untuk memegang dan menangkap mangsanya. Contoh : Stagmomantis carolina (belalang sembah)
    3. Saltatorial, terdapat pada serangga peloncat Hewan yang memiliki tipe kaki saltatorial biasanya memiliki femur kaki belakang lebih besar dibandingkan femur kaki depan. Contoh : Valanga nigricornis (belalang)
    4. Fossarial, misalnya bentuk kaki pada Gaang (Gryllotalpa sp) yang berfungsi untuk menggali. Tibia pada kaki depan lebih besar dari kaki belakang.
    5. Clasping, misalnya bentuk kaki depan pada kumbang air yang berfungsi untuk memegang/menangkap serangga betina pada saat kopulasi. Beberapa tarsomer memiliki alat pengisap dan cakar yang besar. Misalnya pada Dytiscus
    6. Ambulatorial, terdapat pada serangga yang berjalan, hanya berfungsi untuk berjalan atau berlari. Bentuk kaki yang sederhana, memiliki femur dan tibia yang panjang, misalnya semut.
    7. Korbikulum, tungkai tipe ini berfungsi untuk mengumpulkan tepung sari.  Contoh : Apis cerana (lebah madu)
 
8. Sayap Serangga

  • Sebagian besar serangga mempunyai dua pasang sayap. Satu pasang terdapat pada mesotoraks dan satu pasang lainnya terdapat pada metatoraks. Beberapa serangga ada yang hanya mempunyai satu pasang sayap yaitu pada mesotoraks.
  • Serangga dapat diklasifikasikan menjadi dua kelompok berdasarkan kepemilikan sayap, yaitu kelompok serangga bersayap (Pterygota) dan kelompok serangga tidak bersayap (Apterygota).
  • Sayap merupakan tonjolan integumen dari bagian mesopleuron dan metapleuron.
  • Sayap diperkuat oleh satu deretan rangka-rangka sayap yang bersklerotisasi, yang mengandung syaraf, trakea, dan hemolimf.
  • Permukaan atas dan bawah sayap terbuat dari bahan kitin tipis.
  • Bagian tertentu dari sayap tampak seperti garis-garis tebal yang disebut pembuluh sayap.  Bagian sayap yang dikelilingi oleh pembuluh sayap disebut sel.

 

9. Abdomen
Abdomen serangga berjumlah 11 ruas, tetapi ruas ke-11 biasanya banyak tereduksi dan yang terlihat hanya berupa embelan, dengan demikian jumlah ruas abdomen tidak lebih dari 10 ruas.
Masing-masing ruas abdomen secara umum berisi dua sklerit, sklerit dorsal disebut tergit dan sklerit ventral yang lebih kecil disebut sternit, bagian pleuron berupa membran dan kadang-kadang berisi daerah sklerotisasi. Masing-masing ruas berisi satu pasang spirakel pada bagian lateral.
 

Yukk sekalian mampir ke postingan saya Jasa Desain (IG: hi.design), siapa tau lagi nyari-nyari jasa desain yg murah utk logo online shop, desain kaos, event kampus, dll.

Kupu-Kupu Acraea violae

2.1. Klasifikasi Kupu-kupu A. violae
Kupu-kupu (Rhopalocera) termasuk ke dalam filum Arthropoda, divisio Endopterygota, kelas Insekta dan ordo Lepidoptera. Kupu-kupu dikelompokkan dalam dua superfamili yaitu Hesperioidea dan Papilionoidea. Superfamili Hesperioidea terdiri dari satu famili yaitu Hesperiidae. Superfamili Papilionoidea terdiri dari beberapa famili yaitu Papilionidae, Pieridae, Nymphalidae, Lycaenidae, Riodinidae, Satyridae, Amathusiidae, Libytheidae, dan Danaidae (Corbet and Pendlebury, 1956). Salah satu spesies dari famili Nymphalidae adalah A. violae dengan klasifikasi menurut Kunte (2006) adalah:
Filum : Arthropoda
Subfilum : Mandibulata
Kelas : Insekta
Subkelas : Pterygota
Ordo : Lepidoptera
Superfamili : Papilionoidea
Famili : Nymphalidae
Subfamili : Heliconiinae
Genus : Acraea
Spesies : Acraea violae

(Sumber: Fabricius. 1793) 

2.2. Morfologi Acraea violae
a. Telur
Telur kupu-kupu berukuran kecil yaitu sekitar 1-2 mm, warna dan bentuknya beragam, ada yang seperti kubah, setengah bulatan dan bulat. Bagian bawah selalu rata, dan bagian atas terdapat lubang kecil yang disebut dengan mikropil yaitu tempat spermatozoid masuk ke dalam telur. Cangkang telur bertekstur halus dan ada yang terpahat (Amir dan Kahono, 2003). Telur A. violae berwarna kuning dan agak memanjang dengan cangkang yang terpahat seperti ukiran. Telur diletakkan secara berkelompok pada permukaan atas atau bawah daun tumbuhan inangnya dengan jarak yang teratur dan berjumlah sekitar 20 sampai 100 butir (Kunte, 2006). Telur direkatkan pada daun tumbuhan dengan kelenjar yang dihasilkan oleh kupu-kupu betina (Mastright dan Rosariyanto, 2005).


b. Larva (ulat)
Larva kupu-kupu berbentuk silindris (erusiform), tetapi pada famili Lycaenidae bentuknya agak pipih. Saat baru menetas larva berukuran sangat kecil, panjangnya sekitar 2-3 mm. Tubuh larva dapat dibedakan menjadi tiga bagian yaitu caput (kepala), toraks (dada) dan abdomen (perut). Tubuh terdiri dari tiga ruas di bagian toraks dan 10 ruas dibagian abdomen, terdapat sepasang tungkai sejati pada tiap ruas toraks dan tungkai palsu (proleg) pada abdomen (Gambar 2). Proleg digunakan untuk berjalan atau menggantung pada subtrat. Pada bagian sisi segmen toraks dan abdomen terdapat sepasang lubang spirakel yang berguna untuk pernafasan (Amir dan Kahono, 2003). Larva A. violae dewasa berwarna coklat tua mengkilat pada bagian sisi atas dan putih kekuningan pada bagian bawahnya, kepala berwarna coklat kemerahan. Pada segmen tubuh terdapat sejumlah duri bercabang. Larva mengeluarkan cairan berwarna kuning sebagai perlindungan diri dari serangan predator (Kunte, 2006).
 
c. Pupa (kepompong)
Pupa kupu-kupu bentuknya seringkali berlekuk atau tidak rata dan warnanya beragam (Borror, Triplehorn and Johnson, 2005). Pupa menempel pada subtrat dengan bantuan juluran ujung posterior (kremaster). Disamping itu, terdapat juga serat sutera ditengah sebagai penyangga tubuh selama berada pada stadia pupa. Pupa A. violae berwarna putih dengan garis-garis hitam, dalam garis-garis tersebut ada serangkaian titik berwarna oranye. Pupa dikaitakan secara horizontal oleh kremaster pada bagian batang atau daun tumbuhan (Kunte, 2006).

d. Imago (dewasa)
Tubuh kupu-kupu dewasa terbagi menjadi tiga bagian yaitu caput, toraks dan abdomen. Pada caput terdapat sepasang antena yang panjang dan membesar pada ujungnya yang berfungsi sebagai peraba dan perasa, dan lidah bergulung (probosis) yang berfungsi untuk menghisap makanan (Mastright dan Rosariyanto, 2005). Kupu-kupu memiliki sepasang mata majemuk (compound eye) yang berfungsi untuk mengendalikan gerakan (Braby, 2000).
Toraks kupu-kupu terbagi menjadi tiga segmen yaitu protoraks, mesotoraks dan metatoraks. Protoraks merupakan segmen terkecil dan terletak pada segmen terdepan dari toraks. Segmen kedua adalah mesotoraks yang merupakan segmen terbesar. Segmen yang ketiga adalah metatoraks. Pada masing-masing segmen terdapat sepasang tungkai. Pada mesotoraks dan metatoraks terdapat sepasang sayap (Gambar 4) (Braby, 2000).
Abdomen merupakan bagian yang lebih lunak dibandingkan caput dan toraks. Abdomen terdiri dari 10 segmen yang terdiri dari tergum pada bagian dorsal dan sternum pada bagian ventral. Pada segmen pertama sampai ketujuh abdomen terdapat bukaan (spirakel) yang berfungsi sebagai jalan masuknya udara. Dua atau tiga segmen terakhir abdomen mengalami modifikasi membentuk alat genitalia. Alat genitalia eksternal jantan dan betina serta saluran alat kelamin betina sering dipergunakan sebagai karakter identifikasi jenis kupu-kupu (Braby, 2000).
Imago A. violae memiliki panjang sayap sekitar 50-60 mm. Bentuk sayapnya khas dengan warna kecoklatan sampai oranye, sayap depan panjang, tetapi luas dan membulat pada bagian apexnya, dan sayap belakang membulat. Kedua pasang sayap berwarna kecoklatan sampai oranye dengan pinggiran hitam dan semitransparan, pada sayap belakang warna hitam tersebut lebih luas dan di dalamnya terdapat serangkaian bintik-bintik putih. Thorak kecil, abdomen panjang dan sempit. Alat kelamin berwarna cokelat kecil dengan bercak hitam. Kupu-kupu betina memiliki ukuran tubuh lebih besar dan warna sayap yang lebih pucat dibandingkan dengan kupu-kupu jantan. Sama seperti larva, kupu-kupu dewasa juga mengeluarkan cairan kuning sebagai perlindungan dari serangan predator (Kunte, 2006).

2.3. Siklus Hidup

Kupu-kupu mengalami metamorfosis sempurna (holometabola), yaitu memiliki empat stadia dalam hidupnya yang terdiri dari telur (ovum), ulat (larva), kepompong (pupa), dan kupu-kupu dewasa (imago) (Gullan and Cranston, 2000). Waktu yang dibutuhkan oleh kupu-kupu dalam siklus hidupnya bervariasi, tergantung pada suhu lingkungan. Suhu yang lebih panas menyebabkan telur kupu-kupu cepat menetas dan jenis kupu-kupu yang ukurannya lebih kecil dapat menetas dalam waktu yang relatif cepat (Carey-Hughes and Pickford, 1997).
Siklus hidup A. violae dimulai dari telur yang diletakkan secara berkelompok pada tumbuhan inang oleh kupu-kupu betina, telur diletakkan pada bagian atas atau bawah permukaan daun. Setelah beberapa hari telur berubah menjadi larva. Larva yang baru menetas berukuran sangat kecil. Larva hidup berkelompok dan memakan daun tumbuhan inangnya (Kunte, 2006). Stadia larva adalah fase makan yang intensif karena sebagian besar pertumbuhan tubuh kupu-kupu terjadi pada fase larva. Larva mengalami pergantian kulit, yaitu kulit lama dilepaskan dan diganti dengan kulit baru yang ukurannya sesuai. Tujuannya adalah untuk mengantisipasi kulit yang tidak elastis, pada waktu larva menjadi besar. Pergantian kulit ini ditandai dengan adanya sisa cangkang kepala (exuviae). Fase diantara pergantian kulit dikenal dengan istilah instar. Jumlah instar pada larva tidak konstan yang terdiri dari 5-7 instar (Chapman, 1982).
Pupa adalah masa tidak makan dan merupakan masa reorganisasi serta transformasi organ-organ calon imago (Braby, 2000). Untuk meletakkan diri pada substrat, pupa memiliki serat-serat sutera yang dihasilkan oleh larva dari kelenjar sutera (Mastright dan Rosariyanto, 2005). Pupa A. violae memanjang dan digantung bebas tanpa penyangga (Kunte, 2006). Fase pupa merupakan suatu periode tidak bergerak, namun pupa A.violae melakukan gerakan berkejang apabila terganggu (Carey-Hughes and Pickford, 1977).
Stadia setelah pupa adalah imago. Imago A.violae keluar dari pupa dengan membuka bagian bawah pupa. Selanjutnya dengan tungkai depan berpegang pada substrat lalu menarik diri keluar dari pupa yang basah. Saat pertama keluar dari pupa, sayap imago masih basah dan terlipat. Imago yang baru keluar dari pupa akan mengeluarkan cairan kuning dari abdomennya, kemudian mengeringkan tubuh dengan mengepak-ngepakan sayapnya. Kupu-kupu dewasa yang baru muncul berada dekat dengan tumbuhan inang yang dimakan dalam tahap larva, kemudian mencari pasangan dan kawin (Kunte, 2006).

2.4. Habitat dan Penyebaran
Kupu-kupu A. violae banyak ditemukan pada daerah terbuka seperti padang rumput, taman, semak belukar, hutan primer dan sekunder yang terbuka, kupu-kupu ini cenderung menghindari kawasan yang ternaungi dengan vegetasi yang padat. Umumnya melimpah pada daerah dataran rendah, namun di India dan Sri Lanka pernah ditemukan hingga ketinggian 2.100 meter dpl. Keberadaan kupu-kupu ini bersifat musiman, tetapi ditemukan sepanjang tahun khususnya pada sebelum atau saat musim hujan. Penyebarannya mulai dari kawasan India, Sri Lanka, Myanmar, Thailand, Semenanjung Malaysia, Singapura dan Kepulauan Indonesia (Kunte, 2006).

2.5. Pakan
Kupu-kupu A.violae sering terbang disekitar tumbuhan semak dan herba untuk mencari tumbuhan berbunga. Kupu-kupu jantan maupun betina menghisap nektar dari bunga tumbuhan seperti Lantana camara, Tridax procumbens, Stachytarpheta jamaicensis, Tribulus terrestris, Vitex negundo, Vitex agnus, Tarchonanthus sp, Tagetes sp dan bunga liar atau budidaya lainnya. Tumbuhan inang bagi larvanya adalah dari famili Loganiaceae, Cucurbitaceae dan Passifloraceae (Passiflora edulis, P. foetida, P. subpeltata, P. siamica, Adenia cardiophylla dan A. hondala) (Kunte, 2006). Tumbuhan ini mengandung racun yang diasingkan oleh larva kemudian diwariskan pada kupu-kupu dewasa dalam bentuk cairan kuning yang dikeluarkan kupu-kupu untuk perlindungan terhadap predator (Jeremy, Holloway, Geofficy and Peggie, 1991).

2.6. Dinamika Populasi
Kehidupan serangga khususnya kupu-kupu sangat erat hubungannya dengan keadaan lingkungan tempat hidupnya. Hubungan ini terjadi apabila kupu-kupu mengadakan kontak langsung dengan lingkungan yang sifatnya berubah-ubah. Suatu ciri khas dari populasi adalah berubah-ubah dalam jumlah individu. Studi khusus yang membahas hubungan antara perubahan jumlah organisme dalam suatu populasi dengan faktor lingkungan yang mempengaruhinya disebut dengan dinamika populasi (Solomon, 1977).
Naik turunnya populasi serangga dalam suatu areal tertentu ditentukan oleh dua faktor yaitu kemampuan hayati atau potensi biotik dan hambatan lingkungan. Potensi biotik meliputi siklus hidup, sex ratio, dan keperidian. Siklus hidup yaitu lamanya waktu perkembangan serangga mulai telur hingga serangga tersebut meletakkan telur untuk pertama kalinya. Semakin pendek siklus hidup maka perkembangan populasi serangga akan sernakin cepat. Sex ratio adalah perbandingan serangga jantan dan betina, sermakin banyak betina yang dihasilkan akan semakin cepat populasi serangga tersebut berkembang, dan keperidian yaitu jumlah telur yang diproduksi oleh seekor betina, tentunya sernakin tinggi tingkat keperidian, maka akan sermakin cepat populasi serangga tersebut berkembang (Dadang, 2006).
Secara teoritis, populasi suatu organisme meningkat secara cepat sehingga dalam waktu singkat populasi tersebut dapat menutup seluruh permukaan bumi ini. Tetapi pada kenyataannya di alam tidak terjadi demikian, sebab ada berbagai bentuk faktor penghambat yang disebut dengan hambatan lingkungan. Hambatan lingkungan adalah berbagai faktor abiotik dan biotik di ekosistem yang cenderung menurunkan fertilitas dan kelangsungan hidup individu-individu dalam populasi suatu organisme. Faktor tersebut menghalangi organisme untuk dapat berkembang sesuai dengan potensi biotiknya (Untung, 1993).
Hambatan lingkungan dapat dikelompokan menjadi dua yaitu berasal dari luar populasi (faktor ekstrinsik) dan dari dalam populasi (intrinsik). Faktor ekstrinsik terdiri dari faktor biotik seperti makanan, predasi, kompetisi, parasitisme, patogen dan faktor abiotik meliputi curah hujan, suhu, temperatur, kelembaban dan lain-lain. Sedangkan faktor intrinsik misalnya berupa persaingan intraspesifik dalam bentuk territorialitas dan tekanan sosial (Untung, 1993).
Untuk menggambarkan tentang perkembangan, kelangsungan hidup, produktivitas atau kesuburan induk betina pada suatu kelompok dan menyajikan data dasar parameter pertumbuhan populasi digunakan tabel kehidupan (life table). Tabel kehidupan dihasilkan dari data lapangan dan digunakan untuk mengestimasi kemampuan adaptasi populasi yang dipengaruhi oleh faktor biotik dan abiotik (Gabre, Adham and Hsin chi, 2005). Kelahiran dan kematian dapat ditabulasi dengan menggunakan tabel kehidupan yang juga merupakan ringkasan pernyataan yang memuat tipe kehidupan individu dari populasi atau kelompok individu, sehingga harapan hidup individu dapat diperhitungkan (Price, 1984).

Morfologi Gastropoda




Cara Membuat Power Point Menjadi Video

1. Buatlah slide yang sudah diatur sedemikian rupa effect+transitionnya agar otomatis berjalan.
2. File > Save as
3. Pilih format Windows Media Video (*.wmv)

4. Tunggu beberapa menit hingga saving selesai. Tergantung dari banyak sedikitnya isi slide & effect.

 
Catatan: Hanya bisa pada Microsoft office 2010 dan diatasnya

Cara Praktis Menyimpan File HVS dalam Tas Kecil


Mungkin anda adalah pengguna tas serut? Tas kecil kulit? Dan tas-tas kecil lain sebagainya?

Pasti anda kadang kebingungan cara menyimpan file berkas penting seukuran HVS dalam tas tersebut agar tetap rapi. Dimasukkan ke dalam map tapi tidak muat? Membawa tas map terpisah tapi repot?
Hal ini saya terinspirasi dari drawing tube teman saya yang anak arsitek. Bagaimana caranya? Yaitu memasukkan berkas ke dalam kaleng keripik kentang.


1. Carilah kaleng keripik kentang bekas.

2. Apabila kotor bersihkan dengan rapi.
3. Supaya lebih cantik saat dibawa, kreasikan sesuai keinginan anda agar tidak terlihat rongsokan.
4. Berkas HVS anda siap digulung di dalam tabung dan tetap rapi saat dibawa kemana-mana. :D

Catatan:
* Apabila tidak muat potrait, gulunglah secara lanscape.
* File yang dibawa tidak bisa terlalu banyak/tebal.
* Untuk tabung yang lebih besar, anda bisa menggunakan kaleng keripik "Go Banano" atau disesuaikan dengan membeli paralon dengan ukuran sendiri.

Cara Praktis Menyimpan Schedule

Sebenarnya yang namanya rutinitas, kalau selalu kita lakukan berulang-ulang maka kita akan hafal dengan hal itu. Tapi karena sebentar lagi tahun ajaran baru untuk sekolah dan perkuliahan, pasti akan keluar jadwal kuliah atau mata pelajaran baru yang belum terbiasa kita lakukan.
Berhubung karena saya sering kuliah pakai tas yang kecil dan malas harus membawa kertas jadwal seukuran kertas HVS. Berikut ini adalah tutorial ala saya agar schedule bisa praktis dibawa kemana-mana dan mudah untuk dijangkau yaitu membuat Mini Schedule Card.

1. Buatlah tabel schedule anda dengan ukuran sekitar 8,6 x 5,4 cm.
2. Gunakanlah singkatan yang dipahami agar menghemat ruang.
3. Carilah id card dsb yang sudah tidak terpakai.
4. Tempelah mini schedule yang sudah anda print di id card tersebut.
5. Agar tidak terkena basah atau rusak, bungkuslah dengan rapi menggunakan lakban mengelilingi kartu.
6. Mini schedule card anda siap disimpan di dalam dompet. :D

Fungsi Tanaman Jalan


Jenis tanaman yang akan ditanam sebaiknya tidak hanya mempunyai satu manfaat melainkan ada manfaat lain yaitu dari aspek ekologis, aspek estetika, aspek keselamatan dan aspek kenyamanan. Bagian dari tanaman yang menjadi pertimbangan pemanfaatanya adalah dari organ (batang, daun, buah, bunga dan perakaranya serta sifat perkembangannya. Sebagai contoh, dari tajuk, bunga dan daun dapat menimbulkan kesan keindahan (estetika), dari beberapa bunga yang mengeluarkan aroma segar dan warna yang menarik, batang dan daun dapat bermanfaat sebagai peneduh, pembatas, penghalang angin, penghalang silau dari lampu kendaraan dan cahaya matahari. Disamping itu juga manfaat penanaman pohon di jalan adalah sebagai ciri atau maskot suatu daerah yaitu tanaman lokal atau tanaman eksotik yang khas dan hanya dapat tumbuh dan berkembang khusus pada daerah tertentu atau hanya ada di Indonesia.

1) Mengurangi pencemar udara (CO2)
Secara umum jenis tanaman yang berhijau daun (chlorophyl) dalam proses fotosintesisnya dengan bantuan cahaya matahari akan menggunakan karbon dioksida (CO2) dari udara atau lingkungan sekitarnya diubah antara lain menghasilkan Oksigen (O2). Gas CO2 sebagai salah satu gas rumah kaca yang dapat menimbulkan pemanasan global akan direduksi oleh tanaman. Semua jenis tanaman yang berklorofil memanfaatkan CO2 untuk proses biokimia yang dibantu cahaya matahari dapat menghasilkan O2 yang dibutuhkan untuk kehidupan mahluk hidup di bumi.

2) Penyerap Kebisingan
Beberapa jenis tanaman dapat meredam suara dengan cara mengabsorpsi gelombang suara oleh daun, cabang, dan ranting. Jenis tanaman (pohon, perdu/semak) yang paling efektif untuk meredam suara adalah yang mempunyai tajuk yang tebal dan bermassa daun padat. Jenis-jenis tanaman tersebut diperlukan pada tempat-tempat yang berada di pinggir jalan yang membutuhkan ketenangan dan kenyamanan, antara lain yaitu tempat fasilitas umum (tempat ibadah, pendidikan, kesehatan, perkantoran dan lainya). Contoh tanaman yang bertajuk tebal dan massa daun padat antara lain: tanjung, kiara payung, teh-tehan pangkas, puring, pucuk merah, kembang sepatu, bougenville, oleander.

3) Penghalang Silau

Cahaya lampu kendaraan dari arah yang berlawanan saat malam hari seringkali mengganggu pandangan atau silau bagi pengemudi lainya yang berlawanan arah. Salah satu cara penanganannya dengan cara menanam tanaman di tepi jalan dan median jalan. Sebaiknya dipilih pohon atau perdu yang bermassa daun padat, ditanam rapat pada ketinggian 1,5 m. Pada jalur jalan raya bebas hambatan, penanaman pohon tidak dibenarkan pada jalur median jalan. Sebaiknya pada jalur median ditanam tanaman semak, agar sinar lampu kendaraan dari arah yang berlawanan dapat dikurangi. Contoh: bougenville, puring, pucuk merah, kembang sepatu, oleander, nusa indah.

4) Pembatas Pandang
Tanaman dapat pula dimanfaatkan sebagai penghalang pandangan terhadap hal-hal yang tidak menyenangkan untuk ditampilkan atau dilihat, seperti timbunan sampah, tempat pembuangan sampah, dan galian tanah. Jenis tanaman tinggi dan perdu/semak yang bermassa daun padat dapat ditanam berbaris atau membentuk massa dengan jarak tanam rapat. Contoh: bambu, glodokan tiang, cemara, puring, pucuk merah, kembang sepatu, oleander.

5) Pengarah
Tanaman dapat dipakai sebagai penghalang pergerakan manusia dan hewan. Selain itu juga dapat berfungsi mengarahkan pergerakan. Lansekap tepi jalan yang baik dapat memberikan arah dan petunjuk bagi pengendara. Fungsi penanaman dapat menolong/membantu pengguna jalan menginformasikan adanya tikungan jalan atau mendekati jembatan. Walaupun penanaman seperti itu harus didesain dengan pertimbangan untuk keselamatan lalu lintas, pemeliharaan yang murah dan mengurangi penyiangan. Contoh: cemara, glodokan tiang, palem.

6) Memperindah Lingkungan
Lansekap yang indah/cantik dan jalan yang teduh ditanami pohon dan tanaman lain di sepanjang jalan akan menciptakan lingkungan yang lebih kondusif, membuat santai dan ketenangan dari ketegangan bagi pengendara. Penanaman perdu dan pohon, khususnya di daerah perkotaan didesain berkaitan dengan jenis dan fungsi dari jalan untuk mengurangi beberapa gangguan antara lain polusi udara dan kebisingan.

7) Penahan Benturan
Kecelakaan akan terjadi ketika pengendara mengalami kelelahan, lepas kendali, mabuk, melebihi batas kecepatan atau mencoba menghindari benturan pada objek yang membahayakan di jalan. Pada lokasi dimana hal-hal seperti itu terjadi, lingkungan tepi jalan yang dapat membantu pengendara mengurangi kemungkinan membentur objek yang keras dengan menggunakan tanaman. Penanaman perdu yang berakar dengan kuat dan tumbuh dengan baik, akan mengurangi kerusakan dan kecelakaan pada kendaraan dan pengemudi daripada memasang pembatas/dinding yang keras.

8) Pencegah Erosi
Kegiatan manusia dalam menggunakan lahan, selain menimbulkan efek positif juga menyebabkan efek negatif terhadap kondisi tanah/lahan, misalnya dalam pembentukan muka tanah, pemotongan, dan penambahan muka tanah (cut and fill). Kondisi tanah menjadi rapuh dan mudah tererosi oleh karena pengaruh air hujan dan embusan angin yang kencang. Akar tanaman dapat mengikat tanah sehingga tanah menjadi kokoh dan tahan terhadap pukulan air hujan serta tiupan angin. Selain itu dapat untuk menahan air hujan yang jatuh secara tidak langsung ke permukaan tanah. Pohon, perdu dan rumput dapat membantu dalam mengendalikan erosi tanah.

9) Habitat Satwa
Tepi jalan akan menyediakan tempat bagi tanaman yang harus ditanam kembali. Hal ini membantu mengembalikan kesimbangan sistem ekologi. Spesies yang diadopsi pada kondisi lahan yang khusus dan mempunyai nilai keilmuan dan pengobatan harus dilindungi. Salah satu satwa liar yang dapat dikembangkan diperkotaan adalah burung. Beberapa jenis burung sangat membutuhkan tanaman sebagai tempat mencari makan maupun sebagai tempat bersarang dan bertelur. Tanaman sebagai sumber makanan bagi hewan serta tempat berlindung kehidupannya. Hingga secara tidak langsung tanaman dapat membantu pelestarian kehidupan satwa.

10) Pengalih Parkir Ilegal
Penanaman perdu atau pohon pada tepi jalan dapat mencegah parkir liar khususnya di daerah perkotaan dimana hal ini menjadi masalah, walaupun rambu sudah dipasang. Pada luasan yang terbatas dapat digunakan pohon kecil atau perdu untuk menghalangi pengendara yang akan parkir di daerah larangan parkir.

11) Pemecah Angin
Pemilihan tanaman yang ditanam sepanjang koridor jalan akan berfungsi sebagai pemecah angin, dengan demikian mengurangi efek dari angin pada pengendara, khususnya angin kencang dan angin lintang Jenis tanaman yang dipakai harus tanaman tinggi dan perdu/semak, bermassa daun padat, ditanam berbaris atau membentuk massa dengan jarak tanam rapat < 3m. Contoh: glodokan tiang, cemara, angsana, tanjung, kiara payung, kembang sepatu, puring, pucuk merah.

Pemilihan Penanaman Tanaman

Bentuk Tanaman
Bagian yang menjadi pertimbangan pemilihan tanaman adalah bentuk tanaman yang mencakup morfologi (batang, cabang, ranting, daun, bunga, buah), tinggi dan tajuk terkait dengan keharmonisan, keserasian dan keselamatan. Dalam arsitektur lansekap jalan, pemilihan morfologi, tinggi, tajuk tanaman dan penempatan tanaman sebagai elemen lansekap menjadi pertimbangan yang penting.

a. Tinggi Tanaman

 

b. Tajuk tanaman
Tanaman memiliki beberapa bentuk tajuk (canopy). Bentuk tajuk tanaman yang umum ditanam pada jalan antara lain adalah berbentuk bulat,berbentuk oval, berbentuk tombak/segitiga, berbentuk payung, menyebar dan bentuk lainya. Beberapa contoh bentuk tajuk pohon adalah sebagai berikut:

1. Tajuk Bulat (Rounded)
Kiara Payung (Filicim decipiens)
Biola Cantik (Ficus pandurata)


2. Tajuk Memayung (Umbeliform)
Bungur (Lagerstroemia loudonii)
Dadap (Erythrina sp)

3. Tajuk Oval
Tanjung (Mimusops elengi)
Johar (Cassia siamea)

4. Tajuk Kerucut (Conical)
Cemara (Cassuarina equisetifolia)
Glodokan (Polyalthea longifolia)
Kayu Manis (Glycyrrhiza glabra)
Kenari (Cannarium communeae)

5. Tajuk Menyebar Bebas
Angsana (Ptherocarphus indicus)
Akasia daun besar (Accasia mangium)

6. Tajuk Persegi Empat (Square)
Mahoni (Switenia mahagoni)

7. Tajuk Kolom (Columnar)
Bambu (Bambusa sp)
GlodokanTiang (Polyalthea sp)
 
8. Tajuk Vertikal
Jenis Palem seperti Palem
Raja (Oreodoxa regia)

Umur Tanaman
Tanaman mempunyai umur yang berbeda antara kelompok pohon, perdu, terna dan liana dari yang berumur pendek (semusim atau dwimusim) hingga berumur panjang (lebih dari sepuluh tahun). Pemilihan jenis tanaman jalan harus mempertimbangkan faktor umur dikaitkan dengan fungsinya sebagai tanaman jalan.

Kriteria tanaman
Kriteria tanaman yang akan ditanam harus memenuhi kriteria berdasarkan tujuan penanaman dan kondisi lokasi jalan yang akan ditanam. Kriteria tanaman jalan yang akan ditanaman harus memperhatikan sifat dan kondisi organ-organ tanaman serta umur tanaman. Secara klasik, tanaman terdiri dari tiga organ dasar yaitu akar, batang dan daun. Organ-organ lain dapat digolongkan sebagai organ sekunder karena terbentuk dari modifikasi organ dasar. Beberapa organ sekunder dapat disebut sebagai organ aksesori, karena fungsinya tidak vital. Beberapa organ sekunder penting yaitu bunga, buah, biji dan umbi diperlukan dalam reproduksi. Kriteria tanaman jalan berdasarkan kondisi organ tanaman adalah
sebagai berikut:

1. Akar
a. Tidak merusak struktur jalan;
b. Kuat;
c. Bukan akar dangkal.

2. Batang
a. Kuat/Tidak mudah patah;
b. Tidak bercabang di bawah.
 
3. Dahan/Ranting
a. Tidak mudah patah;
b. Tidak terlalu menjuntai ke bawah sehingga menghalangi pandangan.
 
4. Daun
a. Tidak mudah rontok;
b. Tidak terlalu rimbun;
c. Tidak terlalu besar sehingga jika jatuh tidak membahayakan pengguna jalan.
 
5. Bunga
a. Tidak mudah rontok;
b. Tidak beracun.
 
6. Buah
a. Tidak mudah rontok;
b. Tidak berbuah besar;
c. Tidak beracun.
 
7. Sifat lainnya:
a. Cepat pulih dari stress salah satu cirinya dengan mengeluarkan tunas baru;
b. Tahan terhadap pencemaran kendaraan bermotor dan industri.